Berita Terbaru
Kehujanan Bikin Flu? Dosen IPB University Ungkap Fakta Medisnya
BOGOR – Kebiasaan masyarakat mengaitkan rambut basah akibat kehujanan dengan risiko flu hingga sakit kepala perlu dipahami secara tepat. Sebab, air hujan maupun rambut yang basah bukan penyebab langsung seseorang terserang infeksi saluran pernapasan.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Widya Khairunnisa, mengatakan orang dengan kondisi tubuh sehat tidak perlu terlalu khawatir apabila rambutnya basah saat terkena hujan. Namun, kebersihan tubuh dan kondisi setelah kehujanan tetap perlu diperhatikan.
“Secara medis, keramas saat hujan deras pada dasarnya tidak berbahaya bagi orang yang sehat, selama setelahnya tubuh dibilas dengan air bersih dan rambut dikeringkan segera,” kata dr Widya, Senin (19/10/2026).
Ia menjelaskan, flu atau common cold merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus. Artinya, seseorang tidak otomatis terserang flu hanya karena kehujanan atau membiarkan rambutnya basah.
Kendati demikian, paparan suhu dingin dalam waktu tertentu dapat memengaruhi respons tubuh. Salah satunya melalui mekanisme vasokonstriksi, yakni penyempitan pembuluh darah di kulit untuk membantu mempertahankan panas tubuh.
Respons tersebut dapat menimbulkan sensasi dingin, menggigil, hingga rasa tidak nyaman. Selain itu, udara dingin juga berpotensi memengaruhi kondisi lapisan lendir di hidung dan saluran pernapasan.
“Udara dingin juga dapat memengaruhi mukosa (lapisan lendir) hidung dan saluran pernapasan, termasuk mekanisme pembersihan mukosiliar, yaitu sistem alami yang membersihkan lendir dan kuman, serta imunitas lokal di hidung,” jelasnya.
Selain faktor suhu, masyarakat juga perlu memperhatikan kualitas air hujan yang mengenai rambut dan kulit kepala. Selama berada di atmosfer, air hujan dapat berinteraksi dengan debu, polutan udara, mikroorganisme, serta berbagai zat lain.
Partikel tersebut berpotensi menempel pada rambut dan kulit kepala. Dalam kondisi tertentu, paparan polutan dapat memicu stres oksidatif dan peradangan, meskipun bukti penelitian yang secara langsung menghubungkan air hujan dengan gangguan rambut dan kulit kepala masih terbatas.
“Dalam kondisi tertentu, paparan polutan berpotensi memicu stres oksidatif dan peradangan, meskipun penelitian yang secara langsung menghubungkan air hujan dengan gangguan rambut dan kulit kepala masih terbatas,” paparnya.
Untuk mengurangi risiko paparan partikel yang menempel, dr Widya menyarankan masyarakat membilas tubuh dan rambut menggunakan air bersih setelah kehujanan. Rambut juga sebaiknya segera dikeringkan agar tubuh tidak terlalu lama berada dalam kondisi dingin dan basah.
Jika kehujanan dalam waktu lama, khususnya di kawasan dengan tingkat debu dan polusi tinggi, penggunaan sampo lembut dapat membantu membersihkan partikel yang menempel pada rambut dan kulit kepala.
Dr Widya menambahkan, dampak paparan suhu dingin dapat berbeda pada setiap orang. Kelompok tertentu perlu lebih berhati-hati, terutama mereka yang sedang demam, mengalami kelelahan berat, menderita infeksi saluran pernapasan, atau memiliki kondisi seperti asma dan rhinitis.
Pada kelompok tersebut, udara dingin berpotensi memicu atau memperburuk gejala yang berkaitan dengan saluran pernapasan. Karena itu, menjaga tubuh tetap hangat dan segera mengganti pakaian basah setelah kehujanan menjadi langkah yang perlu diperhatikan.
“Sebagian orang perlu lebih berhati-hati terhadap paparan udara dingin, seperti mereka yang sedang demam, sangat lelah, mengalami infeksi saluran pernapasan, atau memiliki asma dan rhinitis. Pada kondisi tersebut, udara dingin dapat memicu atau memperburuk gejala saluran pernapasan,” ungkapnya.
Ia menegaskan, masyarakat tidak perlu langsung menganggap kehujanan sebagai penyebab munculnya penyakit. Pemahaman mengenai penyebab infeksi, kondisi lingkungan, serta respons tubuh terhadap suhu dingin penting agar masyarakat dapat mengambil langkah pencegahan secara tepat.
“Jadi, masalahnya bukan pada keramas saat hujan, tetapi pada paparan dingin berkepanjangan, kualitas air, dan kondisi kesehatan seseorang,” pungkasnya. (Riza)
-
Berita Terbaru3 minggu agoHanif Faisol Minta Kepala Daerah Siapkan Antisipasi Hadapi Cuaca Ekstrem
-
Berita Terbaru4 minggu agoAnanda Tohpati Gelorakan Semangat Kebangsaan Bersama Siswa SMK Kehutanan Bakti Rimba Bogor
-
Berita Terbaru3 minggu agoRencana Underpass Kebon Pedes Bogor Berubah Jadi Flyover, Ini Alasannya
-
Berita Terbaru3 minggu agoIMSO ke-23 Diikuti 404 Siswa dari 23 Negara, Indonesia Kirim 63 Peserta
