Berita Terbaru
HUT ke-10 SSB Mutiara97, Siswa hingga Orang Tua Turun ke Lapangan
BOGOR – Komitmen membangun generasi pesepak bola sejak usia dini terus dijaga Sekolah Sepak Bola (SSB) Mutiara97. Memasuki usia ke-10, sekolah sepak bola asal Kota Bogor ini telah berkembang pesat dengan jumlah peserta didik mencapai 245 anak, sekaligus menorehkan sejumlah prestasi di tingkat nasional.
Satu dekade perjalanan tersebut menjadi momentum bagi Mutiara97 untuk memperkuat kebersamaan sekaligus mengevaluasi perjalanan pembinaan yang telah dilakukan.
Perayaan hari jadi kali ini dikemas melalui kegiatan fun football bersama siswa, orang tua, dan para pelatih di Lapangan Manunggal, Kecamatan Bogor Barat, Minggu (1/11/2026).
Berbagai pertandingan persahabatan mewarnai kegiatan tersebut. Mulai dari pertandingan antarkelompok ibu-ibu, keterlibatan para ayah, hingga laga antara siswa dan pelatih. Suasana lapangan pun dipenuhi keakraban karena seluruh peserta bisa menikmati sepak bola tanpa tekanan kompetisi.
Kepala Sekolah SSB Mutiara97, Erwin Maulana, mengungkapkan bahwa perayaan kali ini sengaja dibuat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya kegiatan melibatkan sejumlah sekolah sepak bola dari berbagai daerah, kali ini pihaknya ingin memberikan ruang kebersamaan bagi keluarga besar Mutiara97.
“Untuk tahun ini kami memang tidak mengundang SSB lain. Kami ingin lebih mendekatkan hubungan antara siswa, orang tua, dan pelatih. Sepak bola bukan hanya tentang pertandingan, tetapi juga bagaimana membangun kebersamaan,” ungkap Erwin.
Di balik perayaan tersebut, Mutiara97 memiliki perjalanan panjang dalam membangun sistem pembinaan. Ketika pertama kali beroperasi pada 2015-2016, jumlah siswanya hanya sekitar 20 anak. Namun, berkat konsistensi dan kepercayaan masyarakat, jumlah tersebut terus bertambah hingga mencapai 245 siswa aktif.
Erwin mengatakan, sejak awal Mutiara97 dibangun dengan tujuan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengembangkan potensi sepak bola sekaligus mendapatkan pendidikan karakter.
“Fokus kami bukan hanya membuat anak-anak bisa bermain bola, tetapi juga mendidik karakter mereka. Kami punya prinsip satu hati, satu jiwa, satu tujuan. Itu yang terus kami pegang dalam menjalankan pembinaan,” katanya.
Untuk mendukung proses tersebut, Mutiara97 kini memiliki 13 pelatih dengan lisensi kepelatihan C dan D. Kualitas tenaga pelatih menjadi perhatian agar perkembangan kemampuan setiap siswa dapat terpantau sesuai kelompok usia dan tingkat keterampilannya.
Pembenahan juga dilakukan dalam tata kelola organisasi. Mutiara97 mulai menerapkan digitalisasi untuk memudahkan pengelolaan administrasi, termasuk proses pendaftaran, pembayaran SPP, honor pelatih, absensi siswa dan pelatih, hingga penyusunan rapor.
Upaya pembinaan tersebut turut terlihat dari capaian prestasi. Mutiara97 baru saja meraih posisi kedua dalam kompetisi Grassroot National. Tim tersebut berhasil melangkah ke final setelah melewati perlawanan wakil Lampung di semifinal, sebelum akhirnya menghadapi tim asal Riau pada pertandingan puncak.
Menurut Erwin, keberhasilan tersebut memiliki nilai tersendiri karena tim yang diturunkan merupakan pemain binaan sendiri, tanpa mengambil atau meminjam pemain dari sekolah sepak bola lain.
“Ini menjadi kebanggaan kami karena anak-anak yang bertanding merupakan hasil pembinaan sendiri. Kami ingin membangun tim dari proses latihan yang panjang, bukan dengan meminjam pemain untuk kepentingan kompetisi,” tegasnya.
Perjalanan Mutiara97 juga menghadirkan sejumlah cerita keberhasilan pemain didiknya. Salah satunya Alya, pesepak bola berusia 17 tahun yang pernah mendapatkan kesempatan memperkuat Timnas Indonesia U-17, tampil di Piala Kartini, hingga merasakan pengalaman bermain di Prancis.
Kehadiran Alya dalam peringatan satu dekade tersebut menjadi motivasi bagi siswa lainnya untuk terus berlatih dan mengejar cita-cita di dunia sepak bola. Acara itu juga mendapat kunjungan dari Budi Sudarsono, salah satu legenda sepak bola Indonesia.
Memasuki dekade berikutnya, Mutiara97 telah menyiapkan sejumlah langkah pengembangan. Penambahan frekuensi pertandingan menjadi salah satu prioritas agar para pemain muda memiliki pengalaman dan jam terbang yang lebih banyak.
Selain itu, peningkatan kompetensi pelatih juga akan dilakukan melalui program coaching clinic dengan menghadirkan pelatih berpengalaman di level nasional.
Dari sisi fasilitas, Erwin mengakui bahwa kebutuhan lapangan masih menjadi tantangan tersendiri. Selama ini, kegiatan latihan menggunakan tiga lokasi berbeda, yakni Lapangan Manunggal, GOR Pajajaran, dan lapangan Brimob Kedung Halang dengan sistem sewa.
“Kami masih menggunakan tiga lapangan yang semuanya disewa untuk menunjang kegiatan latihan. Ke depan, tentu kami ingin punya lapangan sendiri agar pengelolaan jadwal latihan dan pembinaan bisa lebih leluasa,” jelasnya.
Ia berharap, bertambahnya usia Mutiara97 dapat diikuti dengan peningkatan kualitas pembinaan, fasilitas, serta prestasi para pemain. Baginya, keberhasilan sebuah sekolah sepak bola tidak hanya diukur dari banyaknya trofi yang diraih, tetapi juga dari kemampuan mencetak pemain yang memiliki karakter dan kesempatan berkembang hingga tingkat profesional.
“Yang paling penting anak-anak mendapatkan lebih banyak jam terbang, pelatih terus meningkatkan kemampuannya, dan fasilitas semakin baik. Mudah-mudahan suatu saat kami bisa memiliki lapangan sendiri untuk mendukung masa depan Mutiara97,” pungkasnya. (Riza)
-
Berita Terbaru4 minggu agoPemkot Bogor Rencanakan Nobar Final Indonesia vs Thailand, Dedie Prediksi Skor 3-1
-
Berita Terbaru3 minggu agoDisdik Kota Bogor Perkuat Pengelolaan Data SMP Lewat Program NAKULA
-
Berita Terbaru1 minggu agoJembatan Pulo Geulis Direvitalisasi, Pemkot Bogor Siapkan Akses Lebih Nyaman bagi Warga
-
Berita Terbaru2 minggu agoKalahkan Kayumanis 2-1 Kelurahan Genteng Juara Yamaha Kujang Cup 2026,
