Connect with us

Berita Terbaru

Menembus Paradoks Titik Api: Mendorong Ketahanan Lanskap Karhutla

Published

on

Setiap kali musim kemarau menyapa, langit di beberapa wilayah Indonesia kerap kembali diselimuti kabut asap. Tindakan penanganan tahunan berupa operasi pemadaman darurat, pengerahan helikopter water bombing, hingga mobilisasi ribuan petugas seolah menjadi tontonan yang dianggap wajar. Padahal, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan salah satu bentuk gangguan ekologis yang paling kompleks dalam tata kelola lingkungan kita.

 

Petaka ini tidak sekadar menyebabkan hilangnya tutupan lahan dan degradasi ekosistem, tetapi juga merusak keseimbangan hidrologi, mengancam keanekaragaman hayati, menurunkan produktivitas lahan, hingga membahayakan kesehatan masyarakat dan memicu lonjakan emisi gas rumah kaca.

 

Advertisement

Rantai dampak yang destruktif ini jelas menjadikan karhutla sebagai isu strategis yang mengancam ketahanan lingkungan hidup serta target pencapaian penurunan emisi nasional.

 

Namun, mari kita mengevaluasi cara kita merespons krisis ini secara jujur. Selama lebih dari dua dekade, pendekatan pengendalian karhutla di Indonesia nyaris sepenuhnya didominasi oleh paradigma pengurangan risiko kebakaran (fire risk reduction). Mengibaratkan ekosistem sebagai tubuh manusia, kita terus-menerus mencekoki “pasien” dengan obat penurun panas setiap kali ia demam, namun abai memperbaiki “sistem imunnya”. Kita sibuk memadamkan api, tetapi lupa merawat bentang alamnya.

 

Advertisement

Kini, sudah saatnya paradigma tersebut digeser. Pengendalian yang hanya berfokus pada pemadaman atau respons darurat terbukti melelahkan dan tidak menyentuh akar persoalan. Kebijakan nasional harus segera bertransformasi menuju konsep ketahanan lanskap (landscape resilience), sebuah paradigma yang menempatkan bentang alam sebagai sistem sosial-ekologis.

 

Kita harus mulai membangun kapasitas lanskap tersebut agar memiliki “sistem imun” yang kuat—mampu menyerap gangguan, beradaptasi terhadap perubahan ekstrem, dan mempertahankan fungsi ekologisnya secara mandiri.

 

Advertisement

Paradoks Pengendalian

 

Kita tidak bisa menutup mata terhadap berbagai upaya keras pemerintah dan para pemangku kepentingan. Sampai saat ini, telah banyak sistem canggih yang dikembangkan untuk mendeteksi hotspot (titik panas), memetakan luasan area yang terbakar, memprediksi tingkat kerawanan, hingga membangun sistem peringatan dini terintegrasi.

 

Advertisement

Secara operasional, pendekatan yang didominasi oleh teknologi dan mitigasi bencana ini terbukti berhasil meningkatkan kemampuan pemantauan dan respons aparat terhadap kejadian kebakaran di lapangan. Respons tanggap darurat kita memang semakin cepat dan terkoordinasi.

 

Namun, di balik kecanggihan teknologi pantau tersebut, terselip sebuah paradoks yang ironis. Apabila sistem deteksi kita sudah sangat mumpuni, mengapa kejadian karhutla masih terus berulang pada wilayah yang sama dengan pola spasial yang relatif konsisten dari tahun ke tahun? Fakta di lapangan ini menelanjangi kelemahan mendasar dari strategi kita.

 

Advertisement

Di Indonesia, baik kebijakan maupun riset terkait karhutla masih sangat didominasi oleh pendekatan berbasis bahaya (hazard-based) dan berbasis risiko (risk-based). Kita terlalu sibuk mengalkulasi seberapa besar ancaman apinya, tetapi lupa mengukur seberapa rapuh “tubuh” hutan kita untuk menahannya.

 

Kenyataan bahwa wilayah yang sama terus menjadi langganan api mengindikasikan satu hal krusial: keberhasilan pengendalian karhutla tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mendeteksi dan merespons kebakaran. Kemampuan tersebut harus dibarengi oleh karakteristik lanskap yang memengaruhi daya tahan suatu wilayah untuk menahan penyebaran api, mengurangi dampaknya, serta memulihkan diri setelah terbakar.

 

Advertisement

Selama strategi pengendalian belum menyentuh konteks ketahanan ekosistem ini, kita hanya akan terus bermain “kucing-kucingan” dengan titik api—memadamkannya hari ini, hanya untuk melihatnya menyala kembali di lokasi yang sama pada musim kemarau berikutnya.

 

Membangun “Imunitas” Lanskap:

 

Advertisement

Sinergi Alam, Sosial, dan Ketegasan Negara Di tengah paradoks strategi pemadaman yang reaktif, kita sebenarnya telah memiliki modal kuat dan contoh keberhasilan di tingkat tapak. Membangun ketahanan lanskap bukanlah sekadar konsep akademis, melainkan wujud nyata dari pengelolaan bentang alam sebagai sebuah sistem sosial-ekologis yang terintegrasi. Untuk menghentikan siklus karhutla, kita harus memastikan tiga pilar utama biofisik, sosial, dan kelembagaan bekerja layaknya “sistem imun” yang tangguh.

 

Secara biofisik, kita telah melihat berbagai success story dari wilayah yang memiliki riwayat kelam kebakaran berulang, namun kini berhasil pulih dan memiliki resiliensi tinggi. Kuncinya ada pada transformasi pemanfaatan lahan. Lanskap yang dulunya dibiarkan mengering dan rawan terbakar, kini direstorasi melalui praktik budidaya ramah lingkungan dan produktif seperti sistem agroforestri atau penanaman komoditas lokal di lahan gambut basah (paludikultur). Lewat budidaya ini dan skema produktif lahan lainnya, lahan tidak hanya dipulihkan fungsi ekologisnya untuk menahan laju api secara alami, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Ketahanan ekologi yang sejalan dengan ketahanan ekonomi inilah yang membuat lanskap tersebut tidak lagi mudah disulut api.

 

Advertisement

Namun, bentang alam yang tangguh tidak akan terwujud tanpa aktor di lapangan. Dalam dimensi sosial, keberhasilan pengendalian sangat bergantung pada pelibatan masyarakat sebagai garda terdepan penjaga lanskap. Kehadiran komunitas seperti Masyarakat Peduli Api (MPA) di berbagai desa rawan karhutla adalah contoh nyata bagaimana sistem sosial mampu menyerap gangguan dan beradaptasi. Ketika masyarakat diberdayakan bukan sekadar dianggap sebagai obyek penderita mereka memiliki kapasitas kolektif untuk memitigasi risiko sejak dini, melakukan patroli rutin, dan memelopori peralihan dari kebiasaan membuka lahan dengan cara dibakar.

 

Pada akhirnya, keberhasilan pemulihan biofisik dan penguatan sosial ini mutlak membutuhkan “otot” dari dimensi kelembagaan. Konsep ketahanan lanskap tidak akan berjalan tanpa adanya tekanan kelembagaan dan penegakan hukum yang tegas dari negara. Pada akhirnya, keberhasilan pemulihan biofisik dan penguatan sosial mutlak membutuhkan kehadiran dimensi kelembagaan yang kuat. Perubahan fundamental dalam penanganan karhutla mulai terwujud ketika terdapat kebijakan integrasi sumber daya secara menyeluruh. Kebijakan ini mewajibkan kolaborasi penuh antar-lembaga, mulai dari tingkat komando strategis di pusat hingga unit operasional terbawah di lapangan.

 

Advertisement

Keseriusan komando terpusat ini menstimulasi efek jera dan menginstruksikan seluruh aparatur negara untuk bergerak lebih preventif. Di saat yang sama, negara juga menuntut responsibilitas mutlak dari para pemegang izin konsesi. Penegakan hukum yang konsisten yang diterapkan menjadi bukti komitmen ini. Sinergi antara ketegasan institusi negara, kepatuhan korporasi, dan pemberdayaan masyarakat inilah yang pada akhirnya menjadi fondasi utama dalam mewujudkan transisi manajemen risiko kebakaran menjadi manajemen ketahanan lanskap yang sesungguhnya.

 

Mewariskan Bentang Alam yang Tangguh

 

Advertisement

Pada akhirnya, penanganan karhutla di Indonesia harus segera keluar dari jebakan rutinitas pemadaman sesaat. Mengandalkan paradigma pengurangan risiko kebakaran (fire risk reduction) sebagai satu-satunya senjata terbukti tidak cukup untuk menjawab tantangan ekologis yang semakin kompleks. Masa depan pengelolaan lingkungan kita sangat bergantung pada seberapa cepat dan berani kita bertransformasi menuju manajemen ketahanan lanskap (landscape resilience management). Sebuah paradigma yang tidak lagi hanya berfokus pada seberapa cepat kita mematikan titik api, tetapi seberapa kuat bentang alam kita bertahan, beradaptasi, dan memulihkan diri dari ancaman tersebut.

 

Untuk mewujudkan transisi ini, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan harus merajut sinergi yang utuh antara pemulihan kapasitas biofisik lahan, penguatan ketahanan sosial masyarakat di tingkat tapak, dan ketegasan sanksi kelembagaan tanpa kompromi. Kebijakan pengendalian karhutla ke depan harus dirancang secara jauh lebih preventif, adaptif, dan berbasis pada keseimbangan ekosistem. Pemanfaatan big data sumber daya alam nasional yang kita miliki harus segera diintegrasikan dan dijadikan landasan utama dalam setiap pengambilan keputusan strategis.

 

Advertisement

Karhutla bukanlah takdir musim kemarau yang harus kita rutinkan setiap tahun. Kemampuan aparat dan satgas dalam berjibaku memadamkan api di garis depan tentu sangat patut kita apresiasi. Namun, merawat lanskap agar tetap basah, berdaya guna secara ekonomi, dan tahan terhadap api adalah wujud nyata dari pembangunan yang berkelanjutan. Memadamkan api adalah tugas kedaruratan yang mulia, tetapi membangun ketahanan bentang alam adalah investasi peradaban. Sudah saatnya kita berhenti mewariskan asap dan kepanikan, dan mulai mewariskan bentang alam yang lestari bagi generasi mendatang. (*)

Continue Reading
Advertisement

Trending

Berita Online paling Hade, Aktual dan Terpercaya.
Redaksi Perumahan Bogor Park Blok D 12 Pamoyanan Kota Bogor
Inquiry: bogorhdnews@gmail.com WA: 0818486109
Copyright © 2022 BogorHDNews.com. Theme by genbu.