Berita Terbaru
Bukan Sekadar Masuk Kulkas, Begini Cara Tepat Menyimpan Makanan Sisa
BOGOR – Kebiasaan menyimpan makanan sisa ke dalam kulkas tidak cukup hanya dengan memasukkannya ke ruang pendingin. Cara mendinginkan, suhu penyimpanan, hingga waktu makanan berada di luar kulkas menjadi faktor yang perlu diperhatikan untuk menjaga keamanan pangan.
Dosen Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi, Sekolah Vokasi IPB University, Rosyda Dianah, SKM, MKM, mengatakan suhu rendah pada kulkas tidak sepenuhnya menghentikan aktivitas mikroorganisme.
Menurutnya, kulkas dengan suhu sekitar 1–4°C pada dasarnya berfungsi memperlambat pertumbuhan sebagian besar bakteri, bukan membunuh atau mensterilkan makanan.
“Memasukkan makanan ke dalam kulkas bukan berarti proses kerusakan makanan berhenti sepenuhnya. Bakteri tidak mati di dalam kulkas. Kulkas pada suhu sekitar 1–4°C berfungsi memperlambat pertumbuhan sebagian besar bakteri, bukan mensterilkan makanan. Karena itu, makanan tetap memiliki masa simpan yang terbatas,” ujar Rosyda dikutip dari IPB University, Selasa (29/9/2026).
Karena itu, makanan matang yang hendak disimpan perlu segera ditangani dengan tepat. Rosyda mengingatkan masyarakat agar tidak membiarkan makanan terlalu lama berada pada suhu ruang sebelum dimasukkan ke dalam kulkas.
Hal tersebut berkaitan dengan temperature danger zone, yaitu rentang suhu 5°C hingga 60°C yang memungkinkan mikroorganisme berkembang lebih cepat.
“Secara umum, makanan matang yang disimpan pada suhu ≤4°C dianjurkan dikonsumsi dalam 3–4 hari,” jelasnya.
Meski demikian, batas waktu tersebut tidak berlaku secara seragam untuk seluruh jenis makanan. Nasi dan pasta matang, misalnya, membutuhkan perhatian lebih karena berpotensi berkaitan dengan spora Bacillus cereus.
Selain keamanan, kualitas gizi makanan juga dapat berubah selama proses penyimpanan dan pemanasan ulang.
Rosyda menjelaskan, vitamin yang larut dalam air, termasuk vitamin C dan vitamin B kompleks, cenderung lebih sensitif terhadap panas dan oksidasi. Sementara lemak, terutama asam lemak tak jenuh, berisiko mengalami oksidasi apabila makanan tidak disimpan dalam wadah yang tertutup dengan baik.
Di sisi lain, proses pendinginan pada makanan sumber karbohidrat seperti nasi, kentang, dan pasta juga dapat menyebabkan perubahan pada pati.
Sebagian pati dapat menjadi lebih sulit dicerna setelah mengalami proses pendinginan. Kondisi tersebut berpotensi membantu mengendalikan kenaikan gula darah dan mendukung kesehatan pencernaan, selama makanan tetap disimpan dengan baik dan tidak mengalami kontaminasi.
Rosyda juga mengingatkan sejumlah kesalahan yang kerap terjadi saat menyimpan makanan sisa. Di antaranya menggunakan wadah yang terlalu besar dan dalam, tidak menutup wadah dengan rapat, mengabaikan suhu kulkas, serta terlalu sering melakukan pemanasan ulang.
Penataan makanan di dalam kulkas pun perlu diperhatikan. Makanan matang sebaiknya dipisahkan dari bahan pangan mentah guna mencegah terjadinya kontaminasi silang.
Untuk menjaga makanan tetap aman sekaligus mengurangi pemborosan pangan, Rosyda menyarankan masyarakat menerapkan prinsip “2–4–74”.
Prinsip tersebut mengacu pada tiga langkah, yakni tidak membiarkan makanan mudah rusak lebih dari dua jam pada suhu ruang, menyimpannya pada suhu sekitar 4°C atau lebih rendah, serta memanaskannya kembali hingga mencapai sekitar 74°C secara merata.
Dengan penerapan penyimpanan yang tepat, makanan sisa tidak selalu harus berakhir di tempat sampah.
“Keamanan pangan tidak berarti semua makanan sisa harus langsung dibuang. Perencanaan penyimpanan yang baik justru dapat membantu mengurangi food waste,” pungkasnya. (Riza)
-
Berita Terbaru4 minggu agoMenembus Paradoks Titik Api: Mendorong Ketahanan Lanskap Karhutla
-
Berita Terbaru3 minggu agoPesantren Al Falakiyah Kebakaran, Diduga Berawal dari Santri Bermain Api
-
Berita Terbaru3 minggu agoPemkot Bogor Tetapkan PJJ TK, SD, SMP Mulai Senin 7 September 2026
-
Berita Terbaru4 minggu agoDedie Rachim Minta Konsep Leuweung Batutulis Dikembalikan ke Fungsi Hutan Kota
