Connect with us

Berita Terbaru

682 Laporan Bencana Masuk BPBD Kota Bogor, Cuaca Ekstrem Jadi Ancaman Utama Jelang Akhir Tahun

Published

on

BOGOR – Sebanyak 682 laporan kejadian bencana tercatat di Kota Bogor hingga 4 November 2026. Tingginya angka kejadian tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor, terlebih wilayah berjuluk Kota Hujan itu diprediksi memasuki puncak musim penghujan pada Desember mendatang.

Sebagai langkah antisipasi, Pemkot Bogor menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi. Kesiapsiagaan ini diperkuat melalui kolaborasi bersama TNI, Polri, perangkat daerah, relawan hingga masyarakat.

Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, mengatakan menghadapi potensi bencana akibat peningkatan curah hujan diperlukan keterlibatan seluruh pihak. Upaya pencegahan harus menjadi perhatian bersama agar dampak bencana dapat diminimalkan.

Menurutnya, penetapan status siaga darurat tersebut merupakan tindak lanjut arahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus bentuk sinergi dengan Polresta Bogor Kota dan Kodim 0606/Kota Bogor.

Advertisement

“Keselamatan dan kesiapsiagaan bencana menjadi tanggung jawab bersama. Ada langkah-langkah mitigasi yang harus dilakukan dan disepakati, karena pencegahan lebih baik daripada penanganan ketika kondisi sudah darurat,” ujar Jenal saat apel kesiapsiagaan bencana di Kantor BPBD Kota Bogor, Jumat (6/11/2026).

Jenal menilai, penanganan potensi bencana tidak cukup hanya mengandalkan BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran maupun Satpol PP. Setiap organisasi perangkat daerah (OPD) harus menjalankan langkah mitigasi berdasarkan kewenangan masing-masing.

Ia mencontohkan, banjir lintasan yang kerap terjadi di sejumlah kawasan salah satunya disebabkan saluran drainase tersumbat. Begitu pula ancaman pohon tumbang yang membutuhkan perhatian melalui pemeliharaan dan pemangkasan pohon secara berkala.

Karena itu, koordinasi lintas sektor diperlukan agar persoalan yang berpotensi memicu bencana dapat ditangani sebelum memasuki kondisi darurat.

Advertisement

Pemkot Bogor juga mendorong penguatan Kelurahan Tangguh Bencana dan Kecamatan Tangguh Bencana. Keberadaan unsur tersebut diharapkan mampu mempercepat pemetaan kerawanan sekaligus membangun kesiapsiagaan masyarakat di lingkungan masing-masing.

Sejumlah kawasan dengan potensi longsor turut menjadi perhatian, di antaranya Bojongkerta, Bogor Tengah, Batutulis, dan Pasirkuda di Bogor Barat.

Jenal pun berharap peta risiko bencana dapat diintegrasikan ke dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah, baik RPJMD maupun RPJPD, sehingga aspek mitigasi menjadi bagian dari kebijakan pembangunan jangka pendek hingga jangka panjang.

Selain mengandalkan kesiapan pemerintah, masyarakat juga diminta berperan aktif menjaga lingkungan. Kebiasaan membuang sampah ke sungai dan saluran air harus dihentikan karena dapat menghambat aliran air dan memicu banjir.

Advertisement

Warga juga diimbau tidak berteduh di bawah pohon besar ketika hujan deras disertai angin kencang untuk menghindari risiko tertimpa pohon tumbang.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Bogor, Dimas Tiko Prahadisasongko, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mengembangkan sistem pemetaan risiko bencana berbasis digital.

Melalui sistem tersebut, masyarakat nantinya dapat mengakses informasi mengenai jumlah laporan kejadian, lokasi bencana yang telah ditangani, hingga wilayah yang masuk kategori zona merah berdasarkan akumulasi laporan kejadian.

Berdasarkan data infografis BPBD hingga 4 November 2026, terdapat 682 laporan kejadian bencana. Sebagian besar laporan berkaitan dengan dampak cuaca ekstrem.

Advertisement

Jika dilihat berdasarkan wilayah, Kecamatan Bogor Barat menjadi penyumbang laporan kejadian terbanyak. Selanjutnya disusul Kecamatan Bogor Selatan dan Tanah Sareal.

“Kalau dilihat dari sebarannya, potensi risiko bencana hampir merata di enam wilayah kecamatan,” ungkap Dimas.

Ia menjelaskan, cuaca ekstrem menjadi potensi ancaman paling dominan dengan dampak berupa pohon tumbang dan rumah roboh. Selain itu, tanah longsor serta banjir, baik banjir lintasan maupun banjir limpasan, juga menjadi jenis bencana yang perlu diantisipasi.

Mengacu pada prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim hujan di Kota Bogor diperkirakan berlangsung pada Desember 2026.

Advertisement

Dengan kondisi tersebut, BPBD mengingatkan pentingnya meningkatkan kewaspadaan sejak dini, mengingat potensi cuaca ekstrem dapat menimbulkan berbagai kejadian bencana di hampir seluruh wilayah Kota Bogor. (Riza)

Continue Reading
Advertisement

Trending

Berita Online paling Hade, Aktual dan Terpercaya.
Redaksi Perumahan Bogor Park Blok D 12 Pamoyanan Kota Bogor
Inquiry: bogorhdnews@gmail.com WA: 0818486109
Copyright © 2022 BogorHDNews.com. Theme by genbu.