Berita Terbaru
Tirta Pakuan Komitmen Jaga Layanan Air di Bogor Saat Ancaman Kemarau
BOGOR – Gelombang suhu tinggi yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Kota Bogor, memicu kekhawatiran meningkatnya kasus dehidrasi di tengah masyarakat.
Kondisi cuaca yang terik membuat warga diminta lebih memperhatikan kebutuhan cairan tubuh, khususnya saat beraktivitas di luar ruangan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa tren peningkatan suhu udara dalam beberapa waktu terakhir berpotensi berdampak pada kesehatan. Kurangnya asupan cairan saat cuaca panas dapat menyebabkan dehidrasi yang berisiko mengganggu aktivitas sehari-hari.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, masyarakat disarankan memperbanyak konsumsi air putih agar kondisi tubuh tetap terjaga dan tidak mudah lelah akibat paparan panas.
Sementara itu, Perumda Tirta Pakuan memastikan distribusi air bersih kepada pelanggan tetap berjalan optimal meski ada potensi musim kemarau yang lebih kering.
Direktur Utama Perumda Tirta Pakuan, Rino Indira Gusniawan, menegaskan komitmen perusahaan dalam menjaga pelayanan air.
“Kami akan terus memastikan pasokan air bersih tersedia dengan baik, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” ujarnya, Rabu (25/3/2026).
Di tingkat global, perkembangan iklim juga menunjukkan sinyal yang perlu diwaspadai. Berdasarkan pemodelan iklim dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF), suhu permukaan laut di kawasan Pasifik tengah, khususnya wilayah Niño-3.4, diprediksi mengalami kenaikan sepanjang tahun 2026.
Beberapa hasil simulasi memperkirakan anomali suhu laut dapat mencapai kisaran +1,5 hingga mendekati +2 derajat Celsius pada periode Agustus hingga September 2026. Peningkatan ini berpotensi memicu fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) yang cukup kuat.
Sebagai catatan, fenomena El Niño besar pernah terjadi pada tahun 1997 dan 2015, yang menyebabkan kekeringan berkepanjangan di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.
Dampak El Niño bagi Indonesia biasanya berupa musim kemarau yang lebih panjang, meningkatnya risiko kekeringan, gangguan pada sektor pertanian, serta meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan.
Para pakar iklim pun menekankan pentingnya pemantauan suhu laut di Pasifik secara berkelanjutan sebagai langkah mitigasi terhadap kemungkinan terjadinya kemarau ekstrem dan krisis air.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat diharapkan mulai meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan dalam menghadapi perubahan iklim yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi di masa mendatang. (Riza)
-
Berita Terbaru4 minggu agoKLH Tetapkan Hasil Penilaian Kinerja Pengelolaan sampah 2025, Belum Ada Daerah raih Adipura
-
Berita Terbaru3 minggu agoPengelolaan Sampah Bali Jadi Sorotan Presiden, KLH Minta Pemda Segera Lakukan Pemilahan dari Hulu
-
Berita Terbaru4 minggu agoKota Bogor Raih Predikat Kota Menuju Bersih dari Menteri Lingkungan Hidup
-
Berita Terbaru4 minggu agoKontraktor Sediakan Washing Bay untuk Truk Proyek Gene Bank
