Berita Terbaru
BSF-CGM Tegaskan Bogor Sebagai Kota Toleran dan Beragam
BOGOR – Perhelatan Bogor Street Festival Cap Go Meh (BSF-CGM) disambut antusias warga Kota Bogor. Meski diguyur hujan deras, masyarakat tetap memadati lokasi acara demi menyaksikan event budaya kebanggaan Kota Hujan tersebut.
Tak hanya menjadi ajang hiburan dan pelestarian budaya, penyelenggaraan BSF-CGM juga kembali menegaskan identitas Kota Bogor sebagai kota yang menjunjung tinggi toleransi dan keberagaman.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya acara tahunan yang memasuki pelaksanaan ke-24 ini.
“Alhamdulillah, ini adalah tradisi Kota Bogor yang sudah berlangsung sebanyak 24 kali. Sebenarnya totalnya ada 27 kali, namun tiga di antaranya sempat tertunda karena adanya bencana tsunami, letusan gunung berapi, dan juga pandemi COVID-19,” ujar Dedie,” usai membuka BSF-CGM 2026 di Jalan Suryakencana pada Selasa (3/3/2026).
Dedie menegaskan bahwa penyelenggaraan BSF-CGM merupakan bentuk komitmen masyarakat Bogor dalam memperkuat toleransi, keberagaman, serta mempererat tali silaturahmi antarumat beragama dan seluruh unsur masyarakat.
“Harapan ke depannya, tradisi ini dapat terus terjaga sebagai bentuk kecintaan warga Kota Bogor terhadap kotanya sendiri,” ucapnya.
Terkait penyelenggaraan Cap Go Meh tahun ini yang bertepatan dengan bulan Ramadan, Dedie menilai hal tersebut sebagai momen keberagaman yang unik.
“Ramadan kali ini adalah momen pertama dari dua kali Ramadan ke depan di mana CGM akan berlangsung di bulan suci ini. Jadi, CGM akan berlangsung tiga kali selama bulan Ramadan,” jelasnya.
Sebelumnya, rangkaian kegiatan juga telah diawali dengan santunan dan buka puasa bersama anak yatim. Menurutnya, dua tahun ke depan perayaan CGM juga akan tetap berlangsung dalam suasana Ramadan.
“Menurut saya, ini adalah bentuk keberagaman yang unik. Nuansa Ramadannya sangat kental, seperti adanya kegiatan ‘War Takjil’ selama tiga hari ini, dan masyarakat pun sangat antusias. Hal ini sangat baik untuk memperkokoh identitas Bogor sebagai kota yang toleran, beragam, dan saling menghormati,” katanya.
Selain berdampak secara sosial dan budaya, penyelenggaraan BSF-CGM juga memberikan efek positif terhadap perekonomian daerah.
“Sudah pasti berdampak positif. Apalagi sekarang CGM sudah masuk ke dalam kalender ajang nasional dan didukung langsung oleh Menteri Pariwisata. Tingkat okupansi hotel meningkat, dan UMKM juga sangat bergeliat,” ujarnya.
Dalam kegiatan itu, sebanyak 120 pelaku UMKM dilibatkan secara gratis. Bahkan, berdasarkan laporan yang diterimanya, beberapa stan UMKM mampu mencatat omzet harian di atas Rp20 juta.
“Jadi, ini adalah ajang yang luar biasa, tidak hanya dari sisi budaya dan tradisi, tetapi juga dari sisi ekonomi,” pungkasnya. (Riza)
-
Berita Terbaru4 minggu agoTinjau Retakan Jalan Saleh Danasasmita, Dedie Rachim Minta Dinas PUPR Prioritaskan Perbaikan Jalan Alternatif
-
Berita Terbaru4 minggu agoKLH Dorong Penyelamatan Sungai Ciliwung Lewat Gerakan Menanam di Puncak Bogor
-
Berita Terbaru3 minggu agoLewat A Cappella, GAN Acappella Sampaikan Pesan Dakwah dan Spiritual
-
Berita Terbaru4 minggu agoMenteri LH Pimpin Gerakan Indonesia ASRI di Tangerang Selatan
