Berita Terbaru
Mahasiswa KKN Universitas Djuanda Bogor dan Disnaker Dekatkan Pelayanan Publik di Desa Sukakarya
BOGOR – Pelayanan publik idealnya mempermudah masyarakat, bukan sebaliknya. Namun, realitas di lapangan masih menunjukkan banyak warga desa menghadapi kendala saat membutuhkan dokumen penting, termasuk kartu kuning (AK-1) sebagai syarat melamar pekerjaan.
Menjawab persoalan ini, Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Bogor bekerja sama dengan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Djuanda Bogor menghadirkan layanan pembuatan kartu kuning di Desa Sukakarya. Program ini menjadi angin segar bagi masyarakat, karena manfaatnya langsung terasa.
Melalui layanan jemput bola, warga tidak lagi perlu menempuh perjalanan jauh ke Cibinong untuk mengurus dokumen. Kehadiran layanan di kantor desa membuat masyarakat dapat menghemat biaya transportasi, waktu, dan tenaga. Bagi para pencari kerja, terutama lulusan baru, kemudahan ini sangat berarti karena mereka bisa segera melengkapi syarat administrasi untuk melamar pekerjaan tanpa hambatan birokrasi yang melelahkan.
Selain memudahkan akses, program ini juga membawa efisiensi ekonomi. Tidak semua warga desa memiliki sumber daya cukup untuk bolak-balik ke kota. Dengan hadirnya layanan langsung di desa, beban finansial masyarakat berkurang, sementara peluang mereka memperoleh pekerjaan justru meningkat.
Tak kalah penting, inisiatif ini menumbuhkan rasa diperhatikan. Selama ini, masyarakat pedesaan kerap merasa terpinggirkan dari pelayanan publik. Kehadiran Disnaker bersama mahasiswa KKN di tengah warga memberi sinyal bahwa pemerintah peduli sekaligus berkomitmen menghadirkan pelayanan yang mempermudah dan meringankan.
Inisiatif ini sekaligus menunjukkan bahwa pelayanan publik akan terasa maksimal bila ditempatkan dekat dengan masyarakat. Harapannya, program serupa dapat diperluas tidak hanya untuk pembuatan kartu kuning, tetapi juga mencakup layanan lain seperti administrasi kependudukan, kesehatan, hingga pendampingan usaha kecil.
Dengan begitu, desa-desa tidak lagi dipandang sebagai wilayah pinggiran, melainkan mampu berkembang menjadi pusat pertumbuhan yang sesungguhnya. (Riza)
-
Berita Terbaru1 minggu agoRamai Isu Penolakan, RS Vania Tegaskan Tidak Pernah Tolak Ambulans PWI
-
Berita Terbaru4 minggu agoKunjungi Terminal Kampung Rambutan, Hanif Faisol Minta Pengelolaan Sampah Modern Rampung 3 Bulan
-
Berita Terbaru2 minggu agoPemerintah Percepat PSEL, 61 Kabupaten/Kota Siap Olah Sampah Jadi Energi Listrik
-
Berita Terbaru3 minggu agoPemilahan Sampah 100% Dimulai di Rorotan Jakarta Utara, KLH Catat 20 Ton Organik per Hari
